(っ ̄³ ̄)っ ~♡ baca baca baca

Baca aja yaaa, nice post  (✿◠‿◠)

 

” Pernah dekat dengan Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut saja, itu sudah cukup untukku. Cukup untuk meninggalkan sejuta rasa di hati. Rasa senang, sedih, kecewa, marah, semua bercampur jadi satu, seperti koloid yang tak dapat dipisahkan.

Dulu, Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut bagaikan kebutuhan primer bagiku, sehari saja tidak melihatnya, seperti ada sesuatu yang hilang dari bagian diriku. Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebutbegitu pandai memainkan perasaanku, memunculkan berbagai harapan tentang dirinya.

Aku tidak mau terus menerus terjebak dalam kisah ini. Kisah yang tidak jelas akan berakhir seperti apa. Harapan-harapan itu harus kulupakan. Kalau saja bisa, aku ingin menguburnya di lapisan terdalam atmosfer. Aku sudah terlalu lelah untuk terus berharap, karena kurasa hatinya bukan dan mungkin memang tak pernah untukku.

Ingin sekali aku membenci Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut, tapi aku tak bisa. Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut telah masuk jauh ke dalam bongkahan hati ini. Membentuk barier terhadap rasa benci akan dirinya. Menjadi benteng atas semua usahaku untuk membencinya. Tak dapat ditembus, sekeras apa pun usaha yang kulakukan.

Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut bagaikan angin yang dapat datang dan pergi kapan saja. Mengacuhkanku, seakan aku tak pernah ada. Saat Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut tiba-tiba datang kembali, ingin sekali aku menghardiknya. Kedatangannya membuat semua lukaku yang mulai mengering, basah kembali. Sakit! Seperti luka yang ditaburi jutaan butir garam.

Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut seharusnya tak boleh datang kembali! Aku takut, takut rasa itu akan semakin sulit untuk dihilangkan, malah mungkin akan semakin kuat. Tapi aku pun tak kuasa melarangnya. Terkesan jahat sekali aku, melarang orang yang ingin berteman denganku. Tapi terkadang juga kupikir tak apa, Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut pun jahat kepadaku. Entah Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut menyadarinya atau tidak.

Melupakan Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut memang tak semudah membalikkan telapak tangan.Sulit sekali…… Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Mungkin hal ini pulalah yang membuatku semakin sulit melupakannya. ‘Time heals’ mungkin dua kata itu memang benar dan aku hanya harus bersabar menunggu kapan waktu itu tiba.

Semua rasa, harapan, dan kenangan yang pernah Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut ciptakan harus kusimpan dalam kotak kenangan dan tak akan kubuka hingga aku benar-benar siap melepasnya. Aku tak pernah menyesal pernah mengenal Dia yang Namanya Tak Boleh Kusebut. Aku yakin semua kenangan tentang dirinya akan menjadi kenangan terindah suatu saat nanti. “

Aku benci menunggu, karena menunggunya adalah sesuatu yang tidak pasti.

Aku benci berharap, karena harapan akan dirinya hanyalah sia-sia.

Aku benci kehilangan, karena aku tak pernah membayangkan itu sebelumnya.

I never stopped loving him

I just stopped showing it

 

created by : ajeng 🙂

thanks dear 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s