Tears, Fears and Cheers

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, tokoh dan tempat itu hanya kebetulan semata. Happy reading~

DILEMA

–  Cinta datang tanpa permisi –

  

                 Tidak ada yang spesial dari hariku, berjalan seperti biasa. monoton. itulah yang aku rasakan saat ini, tetapi semua berubah saat dia datang di hati dan kehidupanku, ah. aku pikir aku sekarang sudah beranjak dewasa, aku sudah bisa merasakan dengan apa yang selama ini teman – temanku sebut “Jatuh Cinta” begitu indah, aah aku merasa semua yang kumiliki di dunia hanya milikku dan dirinya, nmemang terlalu berlebihan tetapi inilah nyatanya.  Entah bagaimana awalnya kami bisa bertemu, seingat ku saat itu kami sedang menjalani test seleksi olimpiade mata pelajaran Bahasa Jerman. Pada saat itu hanya dia yang lolos sedangkan aku, tidak. tetapi perjuanganku untuk lolos tidak berhenti sampai situ saja, pada saat dibuka seleksi gelombang kedua aku pun mengikutinya dengan harapan walaupun tidak lolos  tidak apa, setidaknya aku sudah bernai mencoba sesuatu hal yang baru. pengumuman terasa begitu lama menurutku sampai pada suatu hari di Senin pagi, guruku menghubungiku dan mengatakan bahwa “kamu lolos” entah kenapa hanya dengan 2 kalimat singkat itu saja aku merasa sangat senang, senang melebihi saat pertama kali aku dibelikan handphone. Dan pada saat latihan pertama aku mulai diperkenalkan dengannya oleh guruku dan itulah saat pertama kalinya aku berjabat tangan dengannya. aneh. saat dia mulai menyebutkan nama dan tersenyum, bagiku itu sangat aneh. Bukan nama nya lah yang membuatku aneh tetapi senyumannya yang membuat perasaan ku aneh. Awalnya kupikir itu hanyalah perasaan sebatas teman. Tapi hari demi hari aku mulai bisa merasakan getaran cinta, terlebih lagi saat dia menanyakan sesuatu hal yang menurutku itu adalah pertanyaan yang paling bodoh.

      haaiii  lagi ngapain sesaat aku terdiam sejenak, dan mengernyitkan mata maaf, ngga liat gue lagi ngapain. ah, entah mengapa pertanyaan bodoh itu yang semakin membuatku jatuh cinta padanya, selama seminggu berlatih untuk mempersiapkan olimpiade membuatku cukup merasa sangat senang, dimana terselip banyak cerita antara aku dan dia. hari keberangkatan ku menuju Bandung tempat diadakannya lomba akhirnya tiba. Pagi itu, dimana saat ayam belum mengeluarkan suaranya dimana orang orang masih memejamkan matanya dan dimana saat hanya ada aku dan dia di sebuah ruangan redup dan hembusan angin yang lumayan kencang yang memecah keheningan diantara kami sampai  pada akhirnya dia membuka pembicaraan terlebih dahulu

sudah siap untuk hari ini??  saat itu aku yang sedang meminum setengguk air putih tersedak secara tiba – tiba hhh??? ya siap ngga siap harus siap entah kenapa  aku terlalu gugup untuk menjawab pertanyaan itu sehingga membuatku batuk dan, malu. haha santai aja, ngga usah grogi begitu.  aah,sial. Dia tau aku gugup siapa yang grogi? gue kan cuma batuk aja, setengah mati aku membela diriku hingga aku merasa mati kutu saat dia menawarkan jaketnya untukku ini, pake aja jaketnya. anginnya gede banget, emang lo ngga kedinginan???  ah,  seketika aku terdiam dan menatap matanya hingga sentuhan tangannya yang melingkarkan jaketnya dipundakku lah yang membuatku sadar dari lamunanku udah puas ngeliatin muka gue??  ah sekarang mukaku berada tepat didepan dadanya, wangi. ha? siapa yang ngeliatin lo? GR deh  aku pun tidak bisa mengelak tawaran jaketnya karena memang saat itu aku merasa kedinginan. sudah hampir 15 menit tidak ada satu orang pun yang datang untuk menengahi kami, padahal guru ku berjanji akan datang tepat pukul 04.30 pagi. sudahlah, aku hanya bisa duduk menyilakan kakiku diatas kursi dan memasukkan tanganku kedalam saku jaket. hangat sekali. jaket ini. wangi ini. aku nyaman sekali. tak sadar aku mulai memejamkan mata dan tertidur dan terbangun saat kepalaku sudah berada di pundaknya nyenyak tidurnya?  jujur, aku sangat nyenyak tapi entah karena gengsi atau apa aku mengelak  apanya  yang nyeyak? gue pusing tauk!  dia pun menganggukan kepala dan menarik lengan kananku ayo kita makan, gua rasa lo pusing karna belom makan  memang tak bisa dipungkiri kalau aku memang sangat sangat lapar. tanpa berpikir panjang, aku pun mengiyakan tawarannya dan langkah kami berhenti di sebuah warung nasi uduk yang memang tak jauh dari sekolah ku, sebelumnya aku tidak pernah tau ada warung ini di dekat sekolah ku, enak sekali. itu lah kata yang kuucap saat pertama aku menyuapkan sesendok nasi ke mulutku.

*****************

ah,aku senang sekali melihat wanita itu tersenyum hanya karena nasi uduk. konyol. tapi aku suka dia, senyumannya dan gigi nya yang gingsul membuat nya lebih terlihat manis saat tertawa. entah sejak kapan aku mulai menaruh rasa dengannya, aku dan dia. Dua pribadi yang berbeda, dia yang begitu cuek yang sangat membuatku jatuh cinta padanya. entah sudah berapa lama aku memperhatikan wajahnya dan tanpa sadar senyum pun tersimpul di sudut bibirku. hingga mata kami tak sadar bertemu..  ah, inilah saat -saat yang aku nantikan. menatap wajahnya dalam -dalam tanpa ada yang menghalangi.entah sudah berapa lama mata kami saling bertemu. hingga akhirnya, dering handphone ku yang menyudahi “tatapan drama” ini. heh, ayo cabut, frau udah nungguin kita tuh dengan rasa canggung aku pun mengucapkan apa yang disampaikan frau dalam pesan singkat di HP-ku hmm.hmm ini makanannya belom gue abisin. sayang tauk! tanpa memperdulikan kata – katanya aku pun langsung menarik tangannya dan membayar semua yang telah dimakannya. ya. semua. banyak sekali yang telah dimakannya. sempat terpikir olehku, dia ini wanita macam apa? disaat seorang wanita sedang memikirkan tentang program diet, tapi dia justru memakan apa saja yang ada di depannya. tapi, inilah yang membuatku “jatuh cinta” padanya.

sesampainya kami di depan lobby, ternyata sudah ada 4 orang lain yang menunggu kami. mereka juga mengikuti olimpiade ini. tanpa membiarkan kami bernapas, guruku langsung menyuruh kami untuk masuk kedalam mobil dan berangkat ke Bandung. kami dibagi menjadi 2 mobil, mobil pertama adalah mobil Honda Freed hitam yang di isi oleh 2 guru pendamping dan 3 orang peserta termasuk, dia. awalnya aku sudah menginjakan kaki di lantai mobil, tetapi guruku menyuruhku untuk mengisi mobil kedua, yak. mobil xenia berwwarna putih susu. ah. kenapa aku ingin sekali satu mobil dengannya? waktu perjalananku hanya diisi dengan lamunan panjang.

Lomba telah usai, dan aku pun menghela napas. kami diberi waktu bebas sekitar 30 menit. takjub. indah. segar. itulah kata – kata yang aku ucapakan saat setelah aku mengelilingi sekolah tempat dimana olimpiade diadakan, dan langkahku terhenti ketika melihat dia yang sedang duduk merenung di depan kolam ikan, melihat senyumnya dari jauh merupakan pemandangan yang terindah yang pernah ku lihat. saat aku ingin menghampirinya, tiba – tiba saja temanku yang lain menghampirinya terlebih dahulu. ku urungkan niatku untuk menghampirinya dan hanya memperhatikan mereka dari jarak jauh. merka tertawa lepas. saling menggoda. entah karena kesal atau apa, aku pun melangkahkan kakiku menjauh dari tempat itu. semenjak saat itu, aku pun sudah tidak pernah lagi berhubungan dengannya, bahkan saat kami bertemu disekolah kami pun hanya berbalas senyum. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Tears, Fears and Cheers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s